Tidak Seharusnya Edy Sujatmiko, Mendapat Tempat Untuk Dibenci Apalagi Ditakuti

SUARAJAVAINDO.COM, JEPARA -Jauh sebelum Dian Kristiandi dilantik oleh Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo sebagai Bupati Jepara pada tanggal 2 Juni 2020, sebenarnya sudah nampak tekanan yang dilakukan bupati kepada Edy yang diangkat menjadi Sekda pada 30 April 2019 oleh Bupati Jepara Ahmad Marzuqi. Edy memang dikenal dekat dengan Ahmad Marzuqi dan sekaligus dikenal sebagai anak emas Hendro Martojo hingga karier kepegawaiannya moncer.

Tekanan nampak jelas dibaca oleh kalangan birokrasi sejak Ahmad Marzuqi berhalangan dan Dian Kristiandi diangkat sebagai Plt Bupati Jepara tanggal 17 Mei 2019. Bukan saja Edy Sujatmiko nampak dikotak dan tidak diberikan kesempatan untuk mewakili Bupati dalam acara-acara dimana bupati tidak bisa hadir, tetapi tidak ada satu foto Sekda Jepara ini nampak di kalender yang diterbitkan oleh Pemda Jepara. Apalagi di baliho-baliho di alun-alun Jepara.

Padahal semasa Bupati Ahmad Marzuqi, foto sekda selalu nampak bersamaan dengan foto jajaran Forkompimda. Sebab Sekda adalah sekretaris Forkompida. Juga saat bupati dijabat oleh Hendro Martojo dan bupati sebelumnya. Pada peringatan hari Korpri, Bupati juga memilih tampil sendiri di baliho dialun-alun dengan baju Korpri. Padahal Sekda adalah Ketua Pengurus Korpri Kabupaten Jepara.

Bukan hanya itu, Sekda yang berdasarkan ketentuan perundang-undangan merupakan Baperjakat (Badan Pertimbangan Jabatan dan Kepangkatan Kabupaten Jepara juga tdak pernah dilibatkan dalam menata kepegawaian. Apalagi dalam pengangkatan pejabat setingkat kepala dinas

Semua dilakukan sendiri oleh bupati dengan dibantu oleh sejumlah Kepala OPD yang menjadi orang dekatnya. Mereka pada umumnya adalah pejabat yang berada di posisi basah. Termasuk Kepala Bapeda yang sampai saat ini masih merangkap jabatan Wakil Direktur keungan RSUD RA Kartini, kendati banyak aturan dilangggar.

Disamping itu Bupati Jepara juga menempatkan orang-orangnya pada posisi strategis dalam pengelolaan dana masyarakat seperti BANNAS, Badan Wakaf Kabupaten. Termasuk istri Bupati juga dijadikan Ka Kwarcab Gerakan Pramuka Jepara, satu dunia yang sangat asing bagi beliau. Dalam pencalonan Ka Kwarcab ini, Edy Sujatmiko kemudian memilih mengundurkan diri walaupun didukung banyak pemilik suara.

Mengapa Bupati Jepara ini tidak suka pada Edy Sujatmiko yang juga Ketua Korps Pegawai Republik Indonesia ( Korpri ) Kabupaten Jepara ini ? Padahal Edy Sujatmiko memiliki rekam jejak panjang dan pengalaman selama 34 tahun di birokrasi dengan prestasi baik. Ia juga memiliki pendidikan yang tinggi dan didapat dari lembaga pendidikan yang kredibel. Juga selalu berada di ranking 10 besar diklat-diklat jabatan yag dilalui.

Edy juga pernah mengantarkan Persijap Jepara sebagai satu-satuya tim di Provinsi Jateng – DIY di kasta tertinggi sepak bola nasional, Liga Super. Kala itu Edy menjadi manajer Persijap. Persijap saat dibawah Edy juga meraih juara 3 Copa Dji Sam Soe

Mengapa Edy Demikian Dibenci dan Ditakuti ?

Ada sejumlah analisa yang menjadi pembicaraan publik mengapa Edy Sujatmiko demikian dibenci dan juga sekaligus ditakuti ? Hingga seluruh daya dan cara dilakukan untuk menyingkirkan alumni Akademi Pemeritahan Dalam Negeri, Untag Semarang dan Undip Semarang ini.

Pertama, kelebihan, kemampuan, kecakapan dan jaringan Edy Sujadmiko bisa jadi menjadi penyebab ia menjadi sasaran tembak untuk disingkirkan. Buktinya hanya selang bebarapa bulan ia dilantik, Edy ingin disingkirkan melalui tes bagi para pejabat di Undip. Ternyata nilai Edy tertinggi jika dibandingkan pejabat yang lain.

Tak berhenti disitu, Edy langsung dilaporkan memiliki kinerja dan disiplin rendah hingga ia diperiksa oleh tim ad hoc yag dibentuk Bupati. Namun Komisi Aparatur Sipil Negera yang berwenang mengawasi menolak mutasi yag diajukan oleh Bupati dan mernyatakan Edy memiliki kinerja baik dan tidak terbukti melanggar disiplin berat.

Kedua, Bupati Jepara akan mengakhiri masa jabatannya Mei 2022. Berdasarkan ketentuan, 6 bulan sebelum masa jabatan bupati berakhir ia tidak boleh melakukan mutasi dan juga dilarang mengangkat pejabat baru. Sementara Pemilihan Bupati baru akan digelar November 2024. Karena itu jika Edy masih berada pada posisinya sebagai Sekda Jepara, ia akan memiliki kedudukan yang semakin kuat menjelang Pilkada tahun 2024. Hingga bisa saja Edy digandeng Partai-Partai Politik yang ada. Ia takut bersaing dengan Edy di Pilkada 2024, jika seandainya Edy mencalonkan diri atau dicalonkan Parpol sebagai Bupati.

Ketiga, konstelasi politik di daerah yang ditandai dengan renggangnya hubungan Dian Kristandi dengan PDI Perjuangan yang telah membesarkannya hingga tidak ada kesepakatan pengisian jabatan wakil bupati juga menjadi salah satu faktor yang menyebabkan ketakutan Dian Kristiandi. Akibatnya ia ingin calon dari luar partai yang jadi wakilnya yaitu Mulyaji.Sebab Mulyaji dinilai memiliki loyalitas tanpa batas.Sedangkan dua calon internal PDI Perjuangan, cenderung lebih loyal ke partai. Hingga ia sulit menutup seluruh tabir permainan APBD.***

Penulis – Purnomo

Tentang suara javaindo

Periksa Juga

Masyarakat Bisa Pantau Live Score Peserta Seleksi Catar Kemenkumham

SUARAJAVAINDO.COM, JAKARTA – Seleksi Calon Taruna (Catar) Politeknik Ilmu Pemasyarakatan (Poltekip) dan Politeknik Imigrasi (Poltekim) …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.