Pepatah, “Bersatu Kita Teguh bercerai kita runtuh” Temukan Momentum Dimasa Pandemi

SUARAJAVAINDO.COM – JEPARA, Senin, (12/7/2021). Dunia tempat kita hidup sekarang lebih kompleks. Disrupsi demi disrupsi, dari virus komputer sampai virus corona. Jadi kemampuan kita untuk mengakumulasi pengetahuan harus tinggi.

Situasi ini, betapapun sulit tidak boleh membuat kita terpukul apalagi kalah. Virus tidak boleh menang. Kita harus memenangkan pertempuran ini. Karena kita perlu terus menggalang persatuan. Jangan mau diadudomba oleh arghoritma media sosial yg memang maunya begitu.

Banyak media yang justru memberitakan hal yang tidak manusiawi , provokasi .
Ujungnya masyarakat kecil yang terbelah , bagaimana mungkin jika orang yang ambisi kekuasaan yang sakit hati terus adu domba malah di biarkan dan di dukung media , harus bersatu lawan virus

“Sekarang saatnya berhenti menyalahkan orang lain. Sekarang saatnya lebih peduli dan bertanggung jawab. Sekarang saatnya berubah dan jujur ​​pada diri sendiri. Sekarang patuhi prokes..!

Kita harus bersatu dalam melawan pandemi ini, tetapi adu domba bukan oleh argoritma medsos melainkan oleh politisi busuk yang haus kekuasaan yang memanfaatkan situasi ini untuk melakukan manuver politik yang tentunya busuk juga.

Negara perlu berbicara kepada ulama, bapak pendeta, pastor, biksu dan pedanda, dan tokoh sosia lain. Agar dari mereka muncul pencerahan kepada seluruh warga dan ummat. Jangan biarkan tokoh2 ini salah paham. Ini waktu menggalan solidaritas.

Kita saksikan bersama Inilah bahwa dampak dari dominasi politisasi agama di kehidupan bangsa ini. Atmosfer komunikasi antar elemen bangsa dipenuhi saling curiga dan ketidakpercayaan. politisi-politisi busuk jangan hanya membuat gaduh dengan pendapatnya sendiri, apalagi menyalahkan orang lain dan membenarkan diri sendiri, saatnya bersatu percayakan pada ahlinya. politisi,ulama,ekonom cukup diam kalau hanya bicara berdasar antipati.

Warga negara berkutat dengan ide kecilnya; pakai masker, jarak, bersih, imunitas, sehat, kerja, makan, sekolah, dll. Negara berkutat dengan ide besarnya; strategi, kebijakan, institusi, kordinasi, persatuan, kebangkitan, solidaritas, dll. Begitulah seharusnya.

Di tengah dua isu itulah negara harus mengembangkan dialog yg sehat dengan rakyat. Karena dengan cara itu energi sosial kita membuncah mengalahkan egoisme dan kelemahan kita. Kalau tidak dikelola dia akan nampak seperti sengketa. Padahal, semua tujuannya sama.

Memang banyak negara yang kelihatan kewalahan menghadapi media sosial. Dulu keaktifan rakyat dalam komunikasi dan dialog rendah. Karena teknologi komunikasi dan media hanya tersedia bagi negara. Sekarang terjadi revolusi dahsyat. Rakyat ngoceh 24 jam. Tidak bisa diam!

Dulu, orang hanya mulut yang bicara. Sekarang jari-jari rakyat ikut berpidato dengan teknologi yang ada. Negara perlu kemampuan mengelola ini. Caranya adalah makin banyak mendengar dan berbicara benar. Jangan ciptakan kebingungan baru sebab itu bikin rakyat tambah cerewet.

Negara harus mengembalilan dirinya pada fungsi membangun solidaritas yang agung. Karena dengan demikian lah gelombang kesukarelawanan dan pengorbanan akan meringankan beban bangsa kita. Hindari konflik dan perpecahan terutama yang dipicu oleh sikap negara.***

Penulis – Purnomo.

Tentang suara javaindo

Periksa Juga

Masyarakat Bisa Pantau Live Score Peserta Seleksi Catar Kemenkumham

SUARAJAVAINDO.COM, JAKARTA – Seleksi Calon Taruna (Catar) Politeknik Ilmu Pemasyarakatan (Poltekip) dan Politeknik Imigrasi (Poltekim) …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.