Masih Tingginya Kasus Covid-19 di Indonesia Menjadi Penyebab Sulitnya Pekerja Migran Diterima Oleh Negara Pengguna Tenaga Kerja

SUARAJAVAINDO.COM. SEMARANG

Setahun lebih pandemi Covid 19 menghantam dunia. Banyak negara menutup diri dengan tidak membuka sama sekali akses warga negara lain. Kenyataan ini membuat Indonesia sebagai salah satu negara yang paling banyak mengirimkan pekerja migran ke berbagai negara seperti limbung.

Belum lagi sebelum pandemi, beberapa aturan yang disusun dalam negeri tidak bersambut baik dengan negara tujuan pekerja migran mencari rezeki. Ini membuat penempatan pekerja migran Indonesia hanya 15 persen dari tahun sebelum pandemi, atau menurun drastis 85 persen

Menyikapi situasi ini, pimpinan DPR RI menyatakan bahwa diperlukan diplomasi khusus untuk memastikan keamanan pekerja migran Indonesia. Lantas, diplomasi khusus seperti apa yang akan ditempuh? Masih tingginya kasus Covid-19 di Indonesia menjadi penyebab sulitnya pekerja migran diterima oleh negara pengguna tenaga kerja.

Kesadaran akan protokol kesehatan di dalam negeri saja masih sering kurang diperhatikan warga negara Indonesia. Banyak bukti pemberitaan akan hal tersebut. Bagaimana negara penerima pekerja migran akan mempercayai dan mau membuka diri untuk mereka? Bahkan, Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia atau BP2MI sendiri mencatat sedikitnya ada 3.400 buruh migran asal Indonesia yang gagal bekerja di Korea Selatan.

Menurut Sekretaris Utama BP2MI, Tatang Budie Utama, persoalan paling mendasar adalah karena kasus terpapar Covid-19 di Indonesia masih sangat tinggi, sementara negara lain seperti Kamboja yang penanganan Covid-19 dinilai baik, dapat diterima di Korea Selatan. Pihak Korea Selatan baru dapat membuka pintu masuk untuk tenaga kerja asal Indonesia jika pemerintah berhasil mengendalikan pandemi dengan bukti penurunan kasus konfirmasi positif Covid-19.

Jujur diakui, setiap hari Satgas Covid-19 selalu menyampaikan update kasus Covid-19 di Indonesia, yang pada kenyataannya selalu menunjukkan penambahan kasus, dan belum ada penurunan kasus hingga saat ini. Fakta ini tentu berat bagi para calon pekerja migran Indonesia yang sudah dibekali kemampuan, karena mereka toh tetap tidak bisa diberangkatkan ke negara tujuan.

Anggota Komisi E, DPRD Prov Jateng, Endro Dwi Cahyono,ST menuturkan di masa pandemi ini hampir semua sektor rugi, tapi untuk masalah calon migran tidak masalah tapi mereka lebih berbicara bagaimana bertahan hidup,” tuturnya.

Buruh migran ada yang semi skill, low skill dan high skill ini semua terdampak.

Menurutnya mereka yang kontrak satu tahun pulang, yang kontraknya belum selesai akhirnyapun kembali. Yang low skill didominasi sektor informal seperti Aasisten rumah tangga yang pada umumnya bekerja di Malaysia, Singapura, Hongkong dan Taiwan.

Mereka yang mau bekerja disana rata rata pendidikannya SD atau SMP. mereka disini tidak mendapatkan kesempatan kerja karena yang disediakan oleh pemerintah selama masa normal sebelum pandemipun para lulusan SMA,” ujar Endro.

Dengan pandemi seperti ini semakin mempersulit karena biasanya pabrik pabrik yang biasa dimasuki mereka juga mengurangai peluang kerja bahkan merumahkannya.

Sedangkan untuk peluang kerja ke luar negeripun sulit karena negara negara yang dituju saat ini memproteksi diri,” ujarnya ,
saat menjadi nara sumber Dialog bersama Parlemen Jawa Tengah dengan tema ” Nasib Calon Pekerja Migran Dimasa Pandemi ” yang disiarkan langsung MNC Trijaya FM di Petra Ballroom Noormans Hotel jalan Teuku Umar 27, Kota Semarang, Selasa (25/5/2021).

Sementara Kadisnakertrans Prov Jateng, Sakina Rosellasari menjelaskan terkait pekerja migran di kondisi pandemi covid19 sangat menentukan artinya sudah ada regulasi dari Kemenakertrans yang dikeluarkan oleh Dirjen Bina Penempatan Tenaga Kerja yang menyatakan bahwa intinya ada 52 negara yang sudah dibuka tetapi nyatanya juga susah kita mengirimkan tenaga migran karena nyatanya negara tujuannya ingin memproteksi berkaitan apakah Indonesia sudah menurun apa belum covid 19 nya, karena itu menentukan,” terangnya.

Apalagi sekarang paparnya ada virus varian baru sehingga para pekerja migran sangat kesulitan. Dirinya memang melakukan pendataan dan berharap calon pekerja migran ini tetap melakukan peningkatan kemampuan, tidak patah semangat tetapi bagaimana berusaha dengan kemampuan untuk mengalihkan ke wira usaha,” ucap Sakina.

Dilihat dari tingkat pengangguran terbuka lanjutnya, jateng di trisemester kemarin 6,48 persen, sekarang udah turun sampai 5,96 persen artinya semula penganggurannya ada 1,21 juta sekarang 1,12 juta.

Sakina berharap teman teman pekeeja migran bisa meningkatkan kemampuan melakukan usaha apapun baik formal maupun informal.

Pekerja migran susah menembus peluang kerja karena ada regulasi dinegara tujuan yang ketat sekali proteksinya berkaitan dengan covid-19,” pungkasnya .

** Taufiq.

Tentang suara javaindo

Periksa Juga

Rapat Koordinasi dan Konsolidasi Koti MAHATIDANA Pemuda Pancasila Se-Jateng

SEMARANG – SUARAJAVAINDO.COM – Komando Inti MAHATIDANA Pemuda Pancasila Majelis Pimpinan Wilayah Pemuda Pancasila Jawa …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.