Breaking News

Kemegahan Candi Borobudur

SUARAJAVAINDO.COM, MAGELANG. Dibangun sebagai tempat ziarah spiritual, yakni sarana untuk menuntun umat manusia beralih dari nafsu duniawi menuju kebajikan & pencerahan Dharma.Candi berdenah mandala, berbentuk gunung berundak, & bermahkota stupa ini merupakan mahakarya agung leluhur bangsa Indonesia.

Kemegahan, keindahan, dan kejeniusan rancang bangun Borobudur merupakan bukti betapa tingginya seni, budaya, ekonomi, dan teknologi peradaban Jawa kuno.Borobudur adalah lambang kehebatan wangsa Sailendra yang berkuasa di Jawa Tengah antara akhir abad VIII dan abad IX.

Menurut sejarawan,candi ini dibangun pada masa Maharaja Samaratungga & dilanjutkan oleh putrinya, Ratu Pramodhawardhani, pada kurun tahun 800 sampai 850. Perencanaan dan rintisan proyek Borobudur mungkin sudah dimulai oleh pendahulunya, yakni Raja Dharanindra (782) & Samaragrawira (800).

Ukuran dan kerumitan Borobudur yang luar biasa memerlukan kecakapan manajemen, kekuatan politik, dan kemampuan ekonomi. Diperlukan penguasaan teknologi, kemahiran teknik, serta seni rupa yang unggul. Untuk menggelar proyek ambisius ini, Kerajaan Mataram memobilisasi segenap kemampuannya, mengeluarkan dana besar, serta mengerahkan arsitek andal, seniman, dan pekerja dalam jumlah besar.

Setelah rancangan siap, kerja besar, antara lain, penyediaan bahan bangunan dan alat-alat, pengiriman bahan bangunan, pengerjaan, serta logistik pangan, air minum, dan tempat bernaung untuk para pekerja.

Batu bahan bangunan Borobudur adalah batu andesit, yaitu batuan beku vulkanik yang ditambang dari tebing perbukitan di lereng Gunung Merapi di sekitar Muntilan dan Magelang. Di sini batu dipahat dalam ukuran standar, kecuali bentuk berbeda untuk bagian khusus.

Batu kemudian dikirim ke lokasi proyek di sekitar Borobudur. Di sini batu dipahat sesuai kebutuhan, dengan teknik susunan batu yang saling mengunci. Beberapa batu dibuat dengan ukuran khusus, misalnya untuk arca Buddha, patung singa, makara, Jaladwara (pancuran air) berornamen kala atau makara, hiasan kala pada gawang pintu, stupika, dan stupa. Blok batu candi ini kemudian diangkut, ditumpuk, dan dipasang pada bangunan candi.

Batu diangkat ke atas mungkin dengan mengunakan lereng menanjak dari konstruksi kayu dan tanah atau dengan memakai perancah kayu dan bambu. Seniman menggambar pola, kemudian pemahat mengukir relief, panel, dan ornamen hiasan pada dinding candi.

Borobudur merupakan paku bumi Pulau Jawa dari posisinya yang berada di Gunung Tidar.
Borobudur dibangun dengan satuan tala (1 tala = 22,9 cm).
Jika diukur dengan satuan tala, banyak fakta ajaib muncul dari dimensi Borobudur, misalnya fakta bahwa Borobudur adalah monumen yang menunjukkan lokasinya sendiri di muka bumi

Panjang sumbu utara dan selatan candi dibagi dengan diameter teras stupa sama dengan 7,61. Angka ini serupa dengan letak Borobudur di 7,608 derajat Lintang Selatan.

Tinggi Candi Borobudur menurut rasio 4:6:9 adalah 41,81 meter atau 182.576 tala. Angka ini adalah setengah jumlah hari dalam 1 tahun penanggalan matahari (362,25 hari).

Jika diukur, kedua sumbu diagonal di teras lingkar kedua, diperoleh hasil 182,53 tala dan 182,79 tala yang persis dengan jumlah hari dalam 1 tahun, yakni 365,32 hari. Demikianlah Borobudur adalah monumen yang menyimbolkan garis waktu.

Fantastis kan ?? Bagaimana coba…Orang jaman dulu memang tidak sembarangan bangun sesuatu. perhitungannya sangat matang. Semoga bermantaat.***

Penulis – Purnomo.

About suara javaindo

Check Also

Tiga Narasumber Berikan Nasehat Ratusan Perwakilan Remaja Mushola dan Masjid di Mushola Al Mujahidin Kwaron

SUARAJAVAINDO.COM- GROBOGAN- Dalam rangka meningkatkan keilmuan dan keimanan para remaja, perwakilan dari 36 musola dan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.