Adiwiyata, Budaya dan Karakter Bangsa

SUARAJAVAINDO.COM. SEMARANG.

Mengapa harus adiwiyata?
Adiwiyata merupakan program pemerintah yang berkaitan dengan konteks pengelolaan lingkungan hidup. Dimana program ini merupakan salah satu bentuk upaya pemerintah dalam mendorong terciptanya masyarakat yang cinta dan peduli akan lingkungan, khususnya pada lingkungan sekolah.

Jika dalam konteks yang lebih umum, kita sering mengenal dengan istilah Adipura dan Kalpataru. Adipura sendiri merupakan penghargaan yang diberikan bagi suatu kota atau daerah yang berhasil dalam mengelola lingkungan perkotaan.

Sementara Kalpataru diberikan pada individu maupun kelompok dalam substansi yang sama, yakni pengelolaan lingkungan hidup.

Berdasarkan PERMEN Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. 53 tahun 2019, dijelaskan bahwa Adiwiyata adalah penghargaan yang diberikan oleh Pemerintah (Provinsi atau Kabupaten/Kota) kepada sekolah yang berhasil melaksanakan gerakan peduli dan berbudaya lingkungan hidup di sekolah.

Program Adiwiyata sendiri memiliki dua prinsip utama, yaitu partisipatif dan berkelanjutan (KLH, 2012). Prinsip partisipatif memiliki makna komunitas sekolah terlibat dalam manajemen sekolah yang meliputi keseluruhan proses perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi sesuai tanggung jawab dan peran.

Sementara untuk prinsip berkelanjutan berarti bahwa seluruh kegiatan harus dilakukan secara terencana dan terus menerus secara komprehensif.

Tujuan utama dari program ini tentu untuk menciptakan budaya bersih dan cinta lingkungan pada warga sekolah, baik itu bagi guru, karyawan sekolah dan yang terpenting bagi para siswa. Berdasarkan penjelasan tersebut, mungkin terlintas sebuah pertanyaan mengapa sekolah dipilih untuk menjadi salah satu wadah/sarana untuk menyebarluaskan gerakan cinta lingkungan dari pemerintah? Alasannya yaitu karena sekolah merupakan salah satu tempat yang ideal dalam memperkenalkan pengetahuan tentang cinta lingkungan.

Selain itu dalam lingkup sekolah, banyak terdapat generasi muda yang kelak akan menjadi penerus bangsa serta nantinya turut serta dalam membangun Indonesia di masa mendatang.

Oleh karena itu, dengan menerapkan program dan nilai Adiwiyata pada lingkungan sekolah, diharapkan akan tertanam nilai-nilai konservasi dan cinta lingkungan bagi para siswa yang kemudian akan membawa dan mengamalkan nilai tersebut tidak hanya di sekolah saja, melainkan pada keluarga hingga ke masyarakat umum.

Karena pada dasarnya suatu nilai kebaikan yang ditanamkan sejak dini, tentu akan menjadi sebuah kebiasaan baik yang dibawa kedepannya serta menjadi cikal bakal terbentuknya budaya bangsa yakni budaya cinta dan peduli akan lingkungan. Linton (1945) menjelaskan bahwa budaya merupakan keseluruhan dari sikap dan pola perilaku serta merupakan

suatu kebiasaan yang diwariskan dan dimiliki oleh suatu anggota masyarakat tertentu. Sehingga nilai-nilai cinta lingkungan seperti dalam program Adiwiyata harus kita coba untuk terapkan. Jika sudah kita coba, tentu lama-kelamaan kita akan menjadi bisa dan terbiasa untuk melakukannya.

Munculnya kebiasaan inilah yang dibawa oleh generasi penerus bangsa kita untuk diwariskan ke generasi berikutnya. Sehingga dari budaya cinta lingkungan ini tentu akan berkembang menjadi karakter bangsa.
Disamping itu, adanya budaya cinta lingkungan secara tidak langsung juga dapat menumbuhkan rasa cinta terhadap negara yang sesuai dengan pengamalan Sila ke-3 dari Pancasila.

Karena sejatinya apabila seseorang sudah memiliki rasa cinta terhadap bangsanya (dalam konteks lingkungan hidup), maka dengan penuh sukarela dan tanggung jawab ia akan merawat lingkungan dengan penuh keikhlasan dan sungguh-sungguh.

Sehingga esensi dari adanya program Adiwiyata oleh pemerintah ini dapat terimplementasi tidak hanya pada lingkungan sekolah yang bersih dan ramah lingkungan saja, melainkan juga nilai-nilai peduli lingkungan yang tumbuh dan tertanam kuat pada karakter siswa-siswi di Indonesia.

Valentino Dinsi, seorang influencer Indonesia pernah mengemukakan bahwa sesuatu yang dilakukan berulang-ulang itu akan menjadi rutinitas; rutinitas yang dilakukan terus-menerus akan menjadi kebiasaan; kebiasaan yang ditumpuk-tumpuk akan menjadi karakter; dan sesungguhnya karakter itulah yang akan menentukan nasib suatu bangsa kedepannya.

Dra. Umi Mar’atun Guru Pkn SMA Negeri 4 Semarang

Tentang suara javaindo

Periksa Juga

300 Dosen Dan Guru Besar Mengikuti Konferensi Nasional Hukum Perdata Ke VII di UNTAG Semarang

SEMARANG – SUARAJAVAINDO.COM – Sebanyak 300 Dosen dari seluruh Universitas di Indonesia mengikuti Konferensi Nasional …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.